Terkadang
ku ingin seperti dirimu yang kuat dalam menghadapi segala hal, yang mempu
menyelesaikan setiap masalah yang Tuhan berikan terhadapmu. Tapi terkadang aku
membencimu karena kau yang selalu mementingkan orang lain.
Aku iri
akan semua yang mereka miliki, mereka selalu mendapatkan yang mereka minta, mereka
selalu tersenyum bahagia dan ceria. Sedangkan aku selalu menyembunyikan
kesedihan dalam setiap senyum dan tawaku. Aku selalu merasa mereka lebih,
lebih, dan lebih dari ku. Dan aku selalu merasa ada yang kurang dalam dirku.
Aku selalu
mencoba untuk menghadapi setiap masalah yang kudapat dan mencoba untuk
menyikapinya dengan lebih dewasa. Tapi aku terlarut dalam keputus asaan,
walaupun ku tahu Tuhan merencanakan sesuatu yang indah di balik itu.
Dukungan
orang tua memang berpengaruh terhadap karir setiap anaknya, namun mereka
terlalu sibuk dengan urusannya.
Terkadang
aku mengingat ucapan seorang ibu “sebenarnya kamu itu anak yang tidak diingnkan”.
Lalu bagaimana dengan sekarang? Saat aku sudah beranjak dewas. Dalam semua itu
ku harus positif thinking dan aku yakin bahwa Allah telah menyembunyikan
rahasia yang indah atas semua ini.
Sedekat inikah
aku dengan mu? Bahkan aku merindukan mu saat kau pergi, aku merasa kehilangan
dan selalu merasa ada yang kurang saat kau tiada dirumah walaupun itu hanya
sebentar.
Tapi kau
sepertinya terlalu sayang kepada saudaraku, dan sepertinya kau lebih bahagia
dengan nya, aku sakit dan ingin menitikan air mata saat engkau dengan nya, saat
kau tertawa bahagia.
Disaat ku
mendapatkan peringkat terbaik disekolah kau seperti tidak senang atas jerih
payah ku selama ini, dan aku melihat mereka yang selalu penuh dengan
kebahagiaan walau pun peringkat mereka dibawahku. Aku iri dengan mereka,
mengapa Engkau tak memberikan orang tua seperti orang tua mereka?.
Setiap jerih
payah yang kudapat selalu menghasilkan buah yang manis, namun buah manis itu
tak membuat raga dan jiwa ku semanis buah itu. Kadang ku harus terluka dan tak
membuat mereka bangga. Dan mungkin
mereka bangga terhadap jerih payahku yang tak bisa mereka ungkapkan, tapi aku
tak bisa merasakan kebanggaan mereka terhadap ku. Terkadang aku ingin pergi
meninggalkan dunia karena itu.
Tuhan... aku ingin sekali
mencoba pergi dari kehidupan ini, aku ingin lari dari kenyataan hidup, dan aku
ingin tahu apakah dia peduli kepada ku saat aku sedang menunggu ajal
menjemputku? Apakah dia rindu saat aku telah kembali padaMu? Aku ini lemah, tak
berdaya, dan terluka, aku sakit saat kau mementingkan orang lain.
Aku akan rindu, aku akan
menangis dan terluka jika kau meninggalkanku dan pergi dari kehidupanku. Tapi sepertinya
sikapmu akan sebaliknya jika ku mengakhiri hidup ini.
Kau bilang aku seperti yang
dikekang, ya.. aku memang dikekang oleh perasaanku sendiri.
Jika Tuhan memberikan pilihan
untukku hari ini antara hidup atau mati, aku akan lebih memilih untuk mati.
Karena dengan begitu mereka
akan semakin senang dan bisa tertawa bahagia tanpa merasa kehilangan.
Aku selalu
diam saat kau marah padaku, karena ku tahu bahwa itu kesalahanku. Aku selalu
setia mendengarkan ocehanmu walalupun kau telah mengatakan nya berulang-ulang,
karena ku tahu waktu kecil kau selalu setia mendengarkan ocehanku yang mungkin
sulit untuk kau mengerti.
Walaupun
kau tidak menginginkan kehadiran ku saat itu,setidaknya kau telah mampu
merawatku hingga ku dewasa, mengajarkanku untuk melangkah diatas tanah hingga
ku bisa melangkah untuk mencari tujuanku, mengajarkan ku berbicara untuk bisa
merangkai kata dan menyampaikannya dengan santun, dan mengajarkan ku tentang
pahitnya kehidupan untuk ku rasakan.
Walaupun terkadang
ku putus asa tapi semua ini harus ku jadikan motivasi untukmenjadikan diriku
yang lebih baik.
Terima kasih
untuk segala nya, aku menyayangimu ibu, kebaikanmu takan pernah terbalaskan. Dan
ku akan merasakan pahit manis nya menjadi seorang ibu, karena aku adalah wanita
yang pasti akan menjadi seorang ibu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar